Padang - Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Barat mengusulkan empat penguatan untuk mendorong percepatan ekspor komoditas unggulan daerah.
Usulan tersebut disampaikan saat menerima kunjungan kerja Anggota Komisi IV DPR RI Nevi Zuairina di Padang.
Empat penguatan yang disampaikan meliputi peningkatan fasilitas dan laboratorium pengujian karantina, pendampingan kepada petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM, penguatan pelayanan di simpul logistik pada pintu pemasukan dan pengeluaran komoditas, serta pengembangan ekosistem ekspor terpadu Sumatera Barat.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Barat RM Ende Dezeanto mengatakan, penguatan sistem perkarantinaan menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan daya saing komoditas daerah.
“Sumatera Barat memiliki potensi komoditas unggulan yang sangat besar dan perlu didukung dengan sistem perkarantinaan yang kuat, baik dari sisi infrastruktur, kapasitas laboratorium, sumber daya manusia, maupun kualitas pelayanan,” ujar Ende dalam pesan elektronik di Padang, Sabtu, (31/10).
Menurut dia, Karantina tidak hanya berperan dalam pengawasan lalu lintas hewan, ikan, tumbuhan, dan produk turunannya.
Pendampingan kepada pelaku usaha juga diperlukan agar komoditas yang akan dikirim mampu memenuhi persyaratan karantina dan ketentuan negara tujuan.
“Kami ingin memastikan bahwa Karantina tidak hanya hadir sebagai institusi pengawasan, tetapi juga menjadi mitra strategis bagi petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM dalam mempersiapkan produk agar memenuhi persyaratan karantina dan standar negara tujuan ekspor,” katanya.
Penguatan laboratorium menjadi salah satu kebutuhan yang disampaikan karena hasil pengujian menjadi bagian penting dalam memastikan komoditas memenuhi persyaratan kesehatan yang ditetapkan.
Selain itu, pelayanan karantina di simpul logistik dinilai perlu diperkuat agar pemeriksaan dan sertifikasi dapat berjalan lebih efektif pada titik-titik utama pergerakan komoditas.
Karantina Sumatera Barat juga mendorong terbentuknya ekosistem ekspor terpadu yang mempertemukan pemerintah daerah, pelaku usaha, petani, peternak, nelayan, serta instansi terkait dalam satu rantai fasilitasi ekspor.
Anggota Komisi IV DPR RI Nevi Zuairina mengatakan, potensi komoditas unggulan Sumatera Barat perlu terus dikembangkan agar mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah dan masyarakat.
Menurut dia, dukungan terhadap fasilitas, pendampingan pelaku usaha, dan pelayanan karantina menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesiapan komoditas memasuki pasar internasional.
“Potensi komoditas unggulan Sumatera Barat perlu kita dorong agar tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga memiliki daya saing untuk menembus pasar internasional,” ujar Nevi.
“Untuk itu, dukungan terhadap penguatan fasilitas laboratorium, pendampingan kepada petani, peternak, nelayan, dan UMKM, serta peningkatan pelayanan karantina harus menjadi perhatian bersama,” lanjutnya.
Karantina Sumatera Barat berharap dukungan terhadap infrastruktur dan pelayanan tersebut dapat mempercepat pemenuhan persyaratan ekspor sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi komoditas daerah.
Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, DPR, dan pelaku usaha juga diharapkan dapat memperkuat pengembangan sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan di Sumatera Barat.
Balai Karantina Sumatera Barat menyatakan akan terus meningkatkan pelayanan, memperkuat pengawasan, serta membangun kolaborasi lintas sektor agar komoditas daerah semakin siap memenuhi persyaratan negara tujuan dan bersaing di pasar internasional.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar